"Is it over there?"
"Just five meters away, sir!"
"Hurry Up!"
Hustle and bustle, shouting, screaming has become commonplace in this campus.
-
Regan could only glance at what the tens of construction workers were doing. This incident had been eight months and Regan still didn't know what they were doing. Regan rode his bike through a new gap made by the workers. This gap can only be passed one way and very narrow, the more surprising is no one is protesting what they do.
Regan turned his motorcycle into his faculty, Faculty of Teacher Training Education. After setting up his bike he walk into the classroom and found some of his friends had arrived.
"Yo, Morning guys!" with his trademark style, Regan greeted his friend who looked seriously reading a book. Not strange because today there is a schedule of group presentations and a collection of people that will move forward.
"All!!!"
"What is wrong?"
"What is that?"
"Is not that the Faculty of Forestry?"
"Yo, Morning guys!" with his trademark style, Regan greeted his friend who looked seriously reading a book. Not strange because today there is a schedule of group presentations and a collection of people that will move forward.
"All!!!"
"What is wrong?"
"What is that?"
"Is not that the Faculty of Forestry?"
Regan merasa sedikit terusik dengan kehebohan diluar, dengan segera ia berjalan keluar kelas dan melihat beberapa mahasiswa tampak keheranan dengan apa yang terjadi. Fakultas Kehutanan berada di depan Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan. Regan melihat tampak disana beberapa orang membawa sebuah kandang besi besar yang mungkin sangat berat, yang membuat heboh adalah apa isi di dalamnya itu. Bunyi khas besi dibanting sangat memekakkan telinga.
"Cepat!"
Teriak salah satu seseorang yang diyakini Regan adalah seorang dekan Fakultas Kehutanan. Tidak hanya mahasiswa bahkan rektor wanita bertubuh subur itu tampak mendekati tempat keramaian, dengan dijaga beberapa pria berbadan tegap wanita itu tampak membisikkan sesuatu kepada salah satu pria. Setelah membisikkan sesuatu, wanita itu pergi meninggalkan tempat dengan mobil sedan hitam dan pergi menjauh.
Regan yang tidak mengerti keadaan ini, hanya menatap serius kandang besar itu yang banyak orang sedang berusaha mengambilnya.
"Regan!"
Mendengar namanya dipanggil, Regan membalikkan badannya dan melihat teman dekatnya memanggilnya Regan pun mendekati teman-temannya tersebut.
-
"Mana anggota yang lain?" tanya seorang perempuan kepada teman-temannya itu. Regan menatap semua temannya. Sekarang mereka berada disalah satu pondok yang digunakan sebagai tempat kumpul mereka. Namun, ada yang berbeda, dulu pondok itu akan berhadapan dengan jalanan luar, sekarang sudah ditutupi tembok setinggi lebih kurang 15 meter dengan kawat yang sangat besar diatasnya.
"Irham, Lian, dan Hadi belum datang" jawab salah satu perempuan yang bernama Raini. Tidak seperti biasanya, tampak muka mereka semua sedang serius dan Regan bingung akan hal itu.
"Mulai darimana kita bahas?" tanya Rianti, salah satu anggota yang sedikit lasak tersebut.
"Jadi, sebelumya aku ingin bertanya apa kalian tidak merasakan sesuatu yang aneh dengan kampus kita ini?" tanya salah saru anggota tertua disana, Qia. Qia memandang temannya satu-persatu tampak raut serius dari wajah mereka masing-masing.
"Yang aku tahu, pertama banyak dosen yang melakukan pemberhentian kerja, kedua pengerjaan tembok setinggi lebih kurang 15 meter yang anehnya tidak ada satupun mahasiswa, Presiden Mahasiswa ataupun masyarakat sekitar kepo tentang hal ini" jawab salah satu anggota pria bernama Tama. Mendengar jawaban itu, membuat Qia dan anggota tim ini menganggukkan kepalanya.
"Yang aku tahu juga, kos Lian juga mendadak yang punya kos pergi keluar kota dan kata Lian mereka harus membayar kos via rekening" jawab Raini, salah satu anggota wanita tertinggi disana.
Mereka adalah Qia, Tama, Regan, Raini, Rianti dan Risa. Mereka membuat kelompok yang sebenarnya terdiri dari sembilan orang. tim mereka ini dinamakan IAU atau lengkapnya It's About Us. Awalnya ini hanya seperti kelompok belajar, namun akhir-akhir ini menjadi tim pencari fakta. Qia adalah anggota wanita yang tertua di IAU, mengambil peran seorang ibu di tim. Raini adalah anggota wanita yang sedikit ceroboh dan sering tidak memikirkan apa yang terjadi kedepannya. Rianti adalah anggota wanita yang berani, sedikit blak-blakan dan susah dinasehati. Risa adalah anggota wanita yang santai dan terlihat sangat berhati-hati dalam setiap tindakannya. Lian adalah anggota wanita yang selalu mengikuti apa saja keputusan tim.
Anggota laki-laki ada Tama, Hadi, Regan, dan Irham. Tama merupakan anggota yang cekatan dan bisa berpikir kritis. Hadi adalah anggota yang tidak banyak bicara alias bicara seperlunya. Regan adalah anggota yang mampu berpikir kritis namun memiliki ide yang sedikit aneh. Dan terakhir ada Irham, anggota yang sedikit ceroboh, lambat dan selalu diremehkan anggota yang lain. wajar bila banyak anggota perempuan, ini dikarenakan Fakultas tempat mereka belajar adalah Fakultas yang identik dengan perempuan.
Fakultas Kehutanan
Ruangan itu tampak gelap walaupun disiang hari dengan seluruh jendela ditutup rapat dan di selimuti gorden bewarna merah darah. Terlihat di sudut ruangan yang berisi lemari-lemari kaca ada beberapa orang yang tampak sedang berbicara serius dengan yang lain. Tampak hanya seperti bayangan hitam.
"Sudah ada tiga sekarang, apa yang harus kita lakukan?"
"Kita semua harus tutup mulut, sedikit saja mahasiswa yang mengetahuinya. Riwayat kita akan tamat"
"Bagaimana pengerjaan tembok?"
"Sudah 90% selesai. Diperkirakan akan rampung minggu depan"
"Lalu, apa rencana Ibu Rektor? Bukankah Ibu Rektor turut andil dalam kejadian ini?"
"Dia akan melakukannya, kalau tidak dia juga yang akan mati!"
Brak! Brak! Brak!
Orang yang sedang berdiskusi itu menatap pintu besi di depan mereka. Perasaan takut, was-was menghampiri diri mereka. Mereka tidak akan bisa pulang kerumah sekarang, tidaka akan.
-
Seminggu Kemudian...
Tembok tinggi itu telah selesai dibangun, menjulang tinggi dan diatasnya ada kumpulan kawat yang sangat tajam. Bahkan, yang bisa memasuki kampus ini hanya mahasiswa dan dosen. Pintu masuk dan keluar sangat dijaga ketat oleh petugas, pintu masuk dan keluar hanya dibuat satu sekarang, yang membuat tak jarang saat ingin keluarpun harus antre yang panjang.
Pria itu berjalan memasuki area Universitas, umpatan tak henti-hentinya ia lontarkan. Bukan tanpa alasan ia seperti itu, ini dikarenakan motornya ditilang saat dijalan tadi, dan betapa tidak beruntungnya dia yang harus menaiki bus dan membayar lebih. Saat ia berjalan, tiba-tiba di Fakultas Ekonomi tampak puluhan mahasiswa demo di depan Gedung untuk dosen. Pria itu melihat dengan teliti apa yang mereka tulis di spanduk.
LULUSKAN KAMI!!!
BERIKAN SARJANA KAMI!!!
dan masih banyak lagi. Pria yang tampak penasaran itu mencoba bertanya kepada salah satu mahasiswa disana.
"Bang, demo apa ni?"
"Ini, mereka udah ujian skripsi, udah membayar uang wisuda namun tiba-tiba enam dosen terkait masalah ini mengundurkan diri secara sepihak"
"Hah? Lalu pihak Universitas?"
"Mereka menyetujuinya"
Pria itu tampak bingung, ya akhir-akhir ini banyak sekali dosen yang mengundurkan diri dan anehnya pihak Universitas menyetujuinya. Tiga hari yang lalu ada sebuah demonstrasi yang dilakukan Presiden Mahasiswa dan jajarannya, namun esok harinya mereka tampak diam, dan seolah tidak terjadi apa-apa.
"Irham!"
Merasa namanya terpanggil, Irham mencari sumber suara dan melihat Hadi yang membawa motor. Irham bergegas mendekatinya dan langsung menaiki motor Hadi.
Ini aneh, ada yang tidak beres. Beberapa Fakultas yang mereka lewati, semua sedang melakukan demo, teriakan, orasi, sepeda motor dan mobil, sampah yang berserakan tampak menghiasi jalanan Universitas ini. Hadi dan Irham hanya mampu melihat, mereka tidak hanya melihat orasi, mereka melihat betapa anarkisnya mahasiswa seperti melempar batu ke jendela gedung, merusak fasilitas kampus, membakar ban dan masih banyak lagi.
"Yang aku tahu, pertama banyak dosen yang melakukan pemberhentian kerja, kedua pengerjaan tembok setinggi lebih kurang 15 meter yang anehnya tidak ada satupun mahasiswa, Presiden Mahasiswa ataupun masyarakat sekitar kepo tentang hal ini" jawab salah satu anggota pria bernama Tama. Mendengar jawaban itu, membuat Qia dan anggota tim ini menganggukkan kepalanya.
"Yang aku tahu juga, kos Lian juga mendadak yang punya kos pergi keluar kota dan kata Lian mereka harus membayar kos via rekening" jawab Raini, salah satu anggota wanita tertinggi disana.
Mereka adalah Qia, Tama, Regan, Raini, Rianti dan Risa. Mereka membuat kelompok yang sebenarnya terdiri dari sembilan orang. tim mereka ini dinamakan IAU atau lengkapnya It's About Us. Awalnya ini hanya seperti kelompok belajar, namun akhir-akhir ini menjadi tim pencari fakta. Qia adalah anggota wanita yang tertua di IAU, mengambil peran seorang ibu di tim. Raini adalah anggota wanita yang sedikit ceroboh dan sering tidak memikirkan apa yang terjadi kedepannya. Rianti adalah anggota wanita yang berani, sedikit blak-blakan dan susah dinasehati. Risa adalah anggota wanita yang santai dan terlihat sangat berhati-hati dalam setiap tindakannya. Lian adalah anggota wanita yang selalu mengikuti apa saja keputusan tim.
Anggota laki-laki ada Tama, Hadi, Regan, dan Irham. Tama merupakan anggota yang cekatan dan bisa berpikir kritis. Hadi adalah anggota yang tidak banyak bicara alias bicara seperlunya. Regan adalah anggota yang mampu berpikir kritis namun memiliki ide yang sedikit aneh. Dan terakhir ada Irham, anggota yang sedikit ceroboh, lambat dan selalu diremehkan anggota yang lain. wajar bila banyak anggota perempuan, ini dikarenakan Fakultas tempat mereka belajar adalah Fakultas yang identik dengan perempuan.
Fakultas Kehutanan
Ruangan itu tampak gelap walaupun disiang hari dengan seluruh jendela ditutup rapat dan di selimuti gorden bewarna merah darah. Terlihat di sudut ruangan yang berisi lemari-lemari kaca ada beberapa orang yang tampak sedang berbicara serius dengan yang lain. Tampak hanya seperti bayangan hitam.
"Sudah ada tiga sekarang, apa yang harus kita lakukan?"
"Kita semua harus tutup mulut, sedikit saja mahasiswa yang mengetahuinya. Riwayat kita akan tamat"
"Bagaimana pengerjaan tembok?"
"Sudah 90% selesai. Diperkirakan akan rampung minggu depan"
"Lalu, apa rencana Ibu Rektor? Bukankah Ibu Rektor turut andil dalam kejadian ini?"
"Dia akan melakukannya, kalau tidak dia juga yang akan mati!"
Brak! Brak! Brak!
Orang yang sedang berdiskusi itu menatap pintu besi di depan mereka. Perasaan takut, was-was menghampiri diri mereka. Mereka tidak akan bisa pulang kerumah sekarang, tidaka akan.
-
Seminggu Kemudian...
Tembok tinggi itu telah selesai dibangun, menjulang tinggi dan diatasnya ada kumpulan kawat yang sangat tajam. Bahkan, yang bisa memasuki kampus ini hanya mahasiswa dan dosen. Pintu masuk dan keluar sangat dijaga ketat oleh petugas, pintu masuk dan keluar hanya dibuat satu sekarang, yang membuat tak jarang saat ingin keluarpun harus antre yang panjang.
Pria itu berjalan memasuki area Universitas, umpatan tak henti-hentinya ia lontarkan. Bukan tanpa alasan ia seperti itu, ini dikarenakan motornya ditilang saat dijalan tadi, dan betapa tidak beruntungnya dia yang harus menaiki bus dan membayar lebih. Saat ia berjalan, tiba-tiba di Fakultas Ekonomi tampak puluhan mahasiswa demo di depan Gedung untuk dosen. Pria itu melihat dengan teliti apa yang mereka tulis di spanduk.
LULUSKAN KAMI!!!
BERIKAN SARJANA KAMI!!!
dan masih banyak lagi. Pria yang tampak penasaran itu mencoba bertanya kepada salah satu mahasiswa disana.
"Bang, demo apa ni?"
"Ini, mereka udah ujian skripsi, udah membayar uang wisuda namun tiba-tiba enam dosen terkait masalah ini mengundurkan diri secara sepihak"
"Hah? Lalu pihak Universitas?"
"Mereka menyetujuinya"
Pria itu tampak bingung, ya akhir-akhir ini banyak sekali dosen yang mengundurkan diri dan anehnya pihak Universitas menyetujuinya. Tiga hari yang lalu ada sebuah demonstrasi yang dilakukan Presiden Mahasiswa dan jajarannya, namun esok harinya mereka tampak diam, dan seolah tidak terjadi apa-apa.
"Irham!"
Merasa namanya terpanggil, Irham mencari sumber suara dan melihat Hadi yang membawa motor. Irham bergegas mendekatinya dan langsung menaiki motor Hadi.
Ini aneh, ada yang tidak beres. Beberapa Fakultas yang mereka lewati, semua sedang melakukan demo, teriakan, orasi, sepeda motor dan mobil, sampah yang berserakan tampak menghiasi jalanan Universitas ini. Hadi dan Irham hanya mampu melihat, mereka tidak hanya melihat orasi, mereka melihat betapa anarkisnya mahasiswa seperti melempar batu ke jendela gedung, merusak fasilitas kampus, membakar ban dan masih banyak lagi.
Berbeda dengan Fakultas lainnya, Fakultas Kehutanan, Ilmu Komunikasi, dan Keguruan tampak sepi. Memang, karena tiga Fakultas inilah yang berada di sudut Univesitas. Semakin dekat mereka, semakin terkejut Hadi dan Irham melihat apa yang terjadi. Motor-motor berserakan jatuh dijalan, mobil sudah tidak terpakir dengan semestinya, bercak merah menghiasi salah satu mobil dengan pintu terbuka. Irham semakin takut, begitu juga dengan Hadi. Mereka turun dari motor setelah memakirkan motor, semuanya tampak sepi, kursi yang berserakan di lapangan, motor berjatuhan, tas-tas mahasiswa tampak berserakan juga.
Irham berusaha menghubungi teman-temannya.
"Halo, Kak Qia! Apa yang terjadi?"
"C-cepat. Pergi dari sana. Kami di Perpustakaan. Cepat kesini, diluar sangat berbahaya!"
"Ham. Ham"
Hadi menepuk pundak Irham beberapa kali, saat Irham merespon. Mereka mengedarkan pandangan kesalah satu pohon besar. Bukan pohonnya, tapi apa yang di bawah pohon tersebut. Irham menajamkan matanya melihat sekumpulan orang tengah berdiri disana. Ada yang aneh, gerak badan mereka tampak kaku dan tangan mereka tidak lurus dengan wajar.
"K-kak Qia, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Irham yang masih berhubungan telfon.
"Irham dengarkan, kakak lihat kalian berdua. Kalian segera ke perpustakaan sekarang. Yang kalian lihat itu bukan manusia!"
Bruk!
Irham melihat Hadi melemparkan batu kearah mereka, dan betapa terkejutnya mereka melihat apa yang terjadi. Kumpulan itu bergerak cepat, berlari tampak kesusahan, tangan mereka yang tampak ingin mencekik. Semakin dekat, Irham melihat darah disekujur tubuh mereka dan mereka mengelurkan suara yang mengerikan.
Hwarrghh!! arrhgg!!!
"Lari!!" Irham berteriak dan menarik tangan Hadi. Mereka menuju perpustakaan, suatu tempat yang Qia suruh mereka kesana.
Ini seperti mimpi buruk, apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Fakultas lain sedang berdemo sedangkan disini sepi, dan mahkluk apa tadi?
Saat mereka berlari menuju perpustakaan, itulah yang dipikirkan Irham. Dia tidak pintar untuk hal seperti ini.
Keadaan semakin mencekam, haripun sudah semakin sore, tas tas, motor, mobil, kursi, meja berserakan dijalan dan area Fakultas, bercak darah dimana-mana. Teriakan minta tolong terdengar dipenjuru Fakultas. Hingga sebuah lembaran kertas jatuh bertuliskan.
Universitas Lancang Kuning Bertanggung Jawab Atas Kejadian Wabah Penyakit
Irham dan Hadi berlari menuju Perpustakaan. Dibelakang mereka sudah ada sekitar lima makhluk mengejar mereka. Irham tidak berani melihat wajah mereka, tidak. Itu sangat mengerikan. Pintu Perpustakaan terbuka dan terlihat Qia dengan raut wajah cemas menyuruh mereka cepat. Irham dan Hadi yang sudah masuk, lalu membantu Qia menutup pintu, makhluk itu berusaha melawan. Irham menatap ngeri tampilan mereka. Badan yang hitam membusuk, ceceran darah yang tidak bewarna merah lagi.
Hwargggg!!!! Hwarrgg!!!! Arghhgggg!!!
Anggota yang ada di dalam pun turut membantu menutup pintu. Rianti mengambil skripsi-skripsi tebal dan melemparkannya kepada mahkluk mengerikan itu. Setelah sedikit berkurang, mereka mendorong pintu itu bersama, dan mengunci serta meletakkan rak besar agar makhluk itu tidak bisa membuka.
Mereka semua tampak kelelahan, Irham melihat keadaan perpustakaan sedikit berantakan.
"Untunglah kalian kemari" ujar Tama memberikan segelas air yang di dapat dari kulkas untuk diberikan kepada Irham dan Hadi.
"Hahhh... Sebenarnya mahkluk apa tadi?" Tanya Irham sesekali mengintip di jendela, terlihat beberapa makhluk itu tampak berlindung dibawah matahari.
"Itu hasil mutasi mahasiswa Kehutanan" jawab Rianti enteng sambil memakan kerupuk. Irham menolehkan pandangannya. Keadaan sangat berantakan, namun ada yang aneh. Mereka hanya berdelapan.
"Dimana Kak Raini?" Tanya Irham kepada mereka.
"Dia terjebak di wc, dan sekarang dia masih di wc. Kita harus secepatnya kesana" ujar Rianti semangat.
"Hah? Diri kita aja, tak tahu akan selamat atau tidak. Ini malah nyelamatin orang? Aku tidak mau ikut-ikutan" sanggah Risa disudut ruangan.
"Gila. Dia itu teman kita. Oke terserah kau mau ikut atau tidak. Ada atau tidaknya kau pun gak ngaruh" bentak Rianti.
Sebenarnya, Irham sudah cukup tenang saat dirinya selamat dari kejaran makhluk itu. Namun, saat mendengar Rianti terjebak di wc membuatnya khawatir, bukan dirinya saja tapi anggota yang lainpun juga kecuali Risa, pikir Irham.
Perpustakaan dikelilingi makhluk mengerikan tersebut. Mereka harus mencari perlindungan, seketika terkait pembangunan tembok, dosen yang mengundurkan diri secara massal, aksi demo entah mengapa semua hal itu terkait dengan masalah yang terjadi sekarang. Mereka harus menemukan orang yang selamat di kampus ini, dan bersama-sama mencari jalan keluar.

0 komentar:
Posting Komentar