A homepage subtitle here And an awesome description here!

Kamis, 26 Oktober 2017

Peran Guru Dalam Proses Pembelajaran (Rangkuman Hasil Diskusi)

Dalam pembahasan kelompok 5. Ada tiga poin penting yang dibahas, yaitu:


  1. Kompetensi Guru Dalam Pembelajaran
  2. Peran Guru Menurut Parah Ahli
  3. Peran Guru dalam Proses Pembelajaran

1. Kompetensi Guru Dalam Pembelajaran
Kompetensi Guru adalah suatu keharusan dalam mewujudkan sekolah berbasis pengetahuan, yaitu pengetahuan tentang pemahaman tentang pembelajaran, kurikulum, dan perkembangan manusia termasuk gaya belajar.

Sedangkan menurut Depdikbud, kompetensi yang harus dimiliki seorang guru adalah:
  • Kompetensi Profesional, guru harus memiliki pengetahuan yang luas dari bidang studi yang akan diajarkan.
  • Kompetensi Personal, artinya sikap kepribadian yang mantap sehingga mampu menjadi sumber intensifikasi bagi subjek.
  • Kompetensi Sosial, artinya guru harus mampu menunjukkan dan berinteraksi sosial.
  • Kompetensi untuk melakukan pelajaran yang sebaik-baiknya.
2. Peran Guru Menurut Para Ahli
Menurut Drs. Abu Ahmadi dan Drs. Widodo Supriyono, peran guru dalam proses pembelajaran berpusat pada:
  • Mendidik anak
  • Memberi fasilitas
  • Membantu mengembangkan aspek-aspek kepribadian siswa
3. Peran Guru Dalam Proses Pembelajaran
  • Guru sebagai pendidik dan pengajar
  • Guru sebagai pelatih dan pembimbing
  • Guru sebagai pengaruh pembelajaran
  • Guru sebagai konselor
  • Guru sebagai pelaksana kurikulum
  • Guru sebagai demonstrator
  • Guru sebagai pengelola kelas
  • Guru sebagai mediator atau fasilitator
  • Guru sebagai evaluator

Menjadi guru yang baik adalah suatu hal yang sangat sulit, guru yang setiap hari bertemu dengan siswa yang memiliki latar belakang, pemikiran yang berbeda-beda haruslah pandai bagaimana agar proses pembelajaran berlangsung dengan baik. Wajar bila guru memiliki banyak peran dalam proses pembelajaran, ini dikarenakan guru adalah pelaku utama dari pembelajaran tersebut.

Selain harus memiliki banyak peran, guru juga harus memiliki kompetensi yang mumpuni seperti yang dijelaskan diatas.

Selasa, 24 Oktober 2017

Me, You, and Chocolate Milk

Wanita itu tampak terburu-buru. Sweater merah mudanya dengan rok ngembangin selutut tampak selaras dengan tubuhnya yang tinggi dengan kulit yang putih, rambut panjangnya tampak berterbangan acak dikarenakan larinya yang sangat cepat. Wanita ini sungguh hebat karena dia menggunakan sepatu berhak yang lumayan tinggi.

Wanita itu berhenti di depan halte, merapikan sedikit dandanannya, merapikan rambutnya dan juga mengelap keringatnya dengan tisu yang ia simpan di saku sweater merah mudanya. Dengan wajahnya yang cantik membuat beberapa pria yang berada disekitar sana menatap kagum ciptaan Yang Maha Kuasa tersebut.

Hari ini masih pagi, dan tibalah sebuah bus di depan halte wanita itu menunggu. Beberapa mereka masuk kedalam bus tidak terkecuali wanita itu juga masuk. Keadaan didalam bus sangat ramai hingga membuat wanita itu harus berdiri. Terkadang wanita itu mengumpat saat melihat pria yang dengan asyiknya duduk di bangku sedangkan ia harus berdiri bersama beberapa pria lain walaupun tidak terlalu berdempetan. 

Beberapa penumpang telah turun dari bus, tapi itu tetap tidak bisa membuat wanita itu duduk dan dia tetap harus berdiri. Hingga suatu kejadian tidak pernah terpikirkan olehnya. Ia merasakan ada sesuatu di kakinya dan terus turun perlahan, wajahnya pucat. Pelecehan? Tidak. Bahkan tidak ada pria dibelakangnya, hanya seorang ibu-ibu dengan belanjaan pasarnya yang tengah tertidur dan pria tampan yang asyik dengan earphone nya. 

Tess

Suara itu hanya disadari oleh wanita itu. Dia sadar, ternyata dirinya sedang haid dan ia lupa memakai pembalut. Dengan wajahnya yang pucat, ia melihat keadaan didalam bus. Memang tidak ramai, namun saat akan turun nanti, ia harus melewati beberapa penumpang dan penumpang itu pasti melihat kakinya. Ia merapatkan kakinya dan berusaha menghilangkan jejak haidnya yang terlanjur jatuh ke lantai bus dengan menggesekkan sepatunya.

Byurrr!!

"Yyaaaa!!!" 

Belum selesai masalah haidnya, ia dihadapkan oleh seorang pria yang dengan tidak sopannya menumpahkan sekotak susu cokelat ke kakinya.

"Ya Tuhan! Maaf mbak! Saya tidak sengaja, saya minta maaf. Ini, bersihkan pakai ini"  Wanita itu tahu, pria ini tampak sedang berakting panik namun dirinya santai. Pria berwajah tegas itu mengeluarkan jaket hitamnya dan melingkarkan jaket itu ke pinggangnya. Wanita itu mengelap bercak di kakinya. Bus berhenti dan itu adalah tujuan wanita itu. Wanita itu turun dengan masih memakai jaket, dan benar saja beberapa penumpang terlihat tidak melihat kearahnya.

Wanita itu turun dari bus dan secara tiba-tiba pria yang tadi memberikan jaketnya menyusul jalannya seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

"H-hey kau! Berikan aku alamat rumahmu!" Ujar wanita itu to the point. Pria itu membalikkan dirinya menatap aneh wanita yang tampak ragu akan ucapannya tadi.

"J-jangan salah paham. Aku hanya ingin mengembalikan jaket ini" ucap wanita itu berusaha percaya diri.

Pria itu tampak tampan dengan rambut ala Koreanya, sorot matanya yang tajam, badannya yang tinggi dan tampak otot yang menggembung di lengannya. Pria itu mengeluarkan secarik kertas dan menulis. Pria itu lalu memberikan kertas itu kepada wanita itu.

"Baiklah, besok akan ku kembalikan" ujar wanita itu.

"Tidak usah. Kau harus ganti rugi" jawab pria itu enteng.

"Hah? Oh! Aku tahu kau pasti jijik kan? Oke jaket kau ini akan ku cuci sepuluh kali di loundry. Oke?" Tantang wanita itu yang seperti tak terima dengan perkataan pria itu.

"Dasar bodoh! Kau harus ganti susu cokelat ku. Itu hadiah untuk adikku dirumah. Kau harus memberikannya padaku nanti malam" 

"Hahaha, baiklah. Aku kira apa, ternyata pria seperti mu sangat menyaya~"

"Sudah jam 7. Aku akan terlambat. Sampai jumpa. Dan ingat hutangmu" potong pria itu dan berlalu meninggalkan wanita itu yang tampak geram karena perkataannya dipotong.

"Dasar. Sialan! Tunggu, jam? Jam berapa?" Wanita itu tampak kalap saat melihat jam tangannya sudah menunjukkan jam 7 lewat 10 menit. Dia terlambat masuk kuliah.

-

It was getting late, and the woman looked bored up and down in front of a row of uniformed houses. The woman cursed why she did not ask for his number, let her not like now. Look, her face oily, hair tied it is not tidy again, and do not forget his heels have been replaced with flip-flops that still survive only the clothes alone.

Terlihat seorang wanita tengah keluar rumah. Tampak wanita itu membuang sampah. Kesempatan itu tidak disia-siakan nya untuk bertanya.

"Permisi mbak, boleh bertanya?" Tanyanya.

Wanita itu membalikkan badan, dan tampak wajah manisnya dan senyum lembut menghiasi dirinya, dan sepertinya ia jauh lebih muda dibanding dirinya.

"Iya,mbak?"

"Mbak. Disini ada gak pria tingginya sekitar segini dan yah dia katanya mau memberikan susu cokelat untuk adiknya" ucapnya sambil mengira-ngira tinggi pria itu. Wanita yang ditanyai itu tampak bingung dengan perkataan wanita yang ada dihadapannya ini.

"Sayang! Kenapa lama seka-"

Suara itu terpotong tatkala pemilik suara melihat dua wanita tengah menatapnya.

"Kamu!"

"T-tunggu. Jadi kamu udah nikah?" Tanya wanita itu spontan.

The man and the woman laughed at the amazement of their guests, laughing they did not stop because their guest was still silent with her index finger pointing at the man and his rounded mouth.

-

"Namaku Hiandra Angutin. Yang membuang sampah tadi itu adik ku, namanya Haini Agustina"

Pria itu memberikan secangkir teh kepada tamunya.

"Oh iya. Siapa namamu?"

"Li-li Lian Anne" jawab wanita itu terbata-bata.

Marga Neil jal naga. Jeil jeil jeil jal naga
Bamratatata Tatatata

"Bukankah itu lagu 2NE1?" tanya spontan Lian saat mendengar lagu kesukaannya diputar.

"Ya begitulah"

"Apa adikmu penggemar K-Pop?"

"Y-yak! Mana dulu hutang susumu?"

Lian tampak merenggut imut memberikan sekotak kecil susu cokelat kepada Hiandra.

"Aini, ini susu cokelatmu!"

Haini keluar dari kamar, dan memandang cerah kotak yang berisi susu kotak kecil rasa cokelat.

"Wajah terima kasih, kak! Yuhuuuu"

"Haini, ajak juga dia ke kamarmu. Sepertinya dia juga suka Korea"

"Benarkah kak?" Tanya Haini meminta kejelasan kepada Lian

"Iya, aku suka BIGBANG"

"Eaaaaa!!!!!"

"Kalau begini, aku rela kalian jadian!"

Ucapan terkahir Haini membuat Lian dan Hiandra mendadak canggung. Haini telah masuk kamarnya dengan bahagianya memegang kotak susu kesukaannya itu.

Lian menyusul Haini kedalam kamarnya, saat melewati Hiandra. Hiandra menatap Lian.

"Kau tidak lupa kan memakai pembalut? Disini tidak ada pembalut" perkataan itu seperti ejekan bagi Lian. Lian pun siap-siap memukul Hiandra namun, pria itu telah lari keluar rumah.

"Sialan!" 

Senin, 23 Oktober 2017

Ketika Susu Orang Lain Lebih Menarik Daripada Susu Sendiri

"Besok aja, ma. Dina masih malas membuatnya"


The girl continues to walk his mother's call. The girl named Dina was walking carrying her laptop bag. Several times his lips moved a small hum singing a song that was somehow. Dina slowed her pace as she was blamed for a café. The café called DayandNight looks elegant with its outbuildings dominated by black paint with fluorescent lights that look gorgeous at night. Some young people seemed to sit and chat with each other, there was also a café waiter serving some customers.


Dina walks into the café, opens the glass door and is greeted with a cool cold and refreshing ac. Dina smoothed her hijab slightly and looked for a place she thought was very comfortable. Dina saw a corner place directly opposite the outside of the café, Dina rushed towards it. Dina puts her laptop down and sits at a small round table that is actually reserved for two people. The first 30 seconds came a male waitress in her black uniform, clean face and hair that looked pomade.

"Silahkan mbak, ini daftar menunya" pelayan pria yang diketahui bernama Gino dari name tag Itu memberikan buku menu berlambangkan café didampul depannya.

Dina tampak serius melihat dan memperhatikan menu-menu yang ada. Seperti umumnya café, café ini lebih banyak menyediakan milkshake, ice blend, coffee dan beberapa menu makanan. Selain melihat menu, Dina juga melihat harga yang tertera.

"Milk Vanilla nya satu ya mas" seru Dina sambil menutup buku menu itu dan menyerahkannya kepada pelayan yang tengah menulis di buku kecil.

"Ada yang lain, mbak?"

"Gak usah. Itu aja dulu mas"

"Ditunggu ya mbak" 

Pelayan itu pergi meninggalkan Dina. Dina membuka laptop hitamnya, melihat tampilan wajahnya. Wajah lonjong dengan pipi yang tembem tampak begitu menawan dengan jilbab merahnya menambah sedikit kecantikannya. Dina menghidupkan laptopnya, dan mencari aplikasi Microsoft Word. Dina mengetik beberapa kalimat dengan cekatan dan beberapa kali tersenyum membayangkan tulisannya. 

"Ini mbak. Milk Vanilla. Selamat menikmati" Pelayan yang tadi meletakkan satu gelas besar ke meja Dina. Dina sedikit menggeser kan laptopnya agar lebih leluasa. 

Dina menyeruput minumannya dengan gemas.

"Eummm" Dina tampak menikmati minumannya, dan segera melanjutkan ketikannya.

Beberapa menit kemudian, Dina tampak terusik dengan beberapa orang di depannya. Tampak disana dua orang perempuan dan dua orang laki-laki tengah bercanda dengan keras dan sesekali wanita disana memukul gemas pria yang sepertinya membuat candaan. 

"Isss apalah kau ni! Janganlah hahaaha" 

"Iya iya, kau tu orangnya hahaha"

"Hahaha"

Candaan mereka semakin menjadi yang membuat Dina seperti ingin melemparkan milk vanilla nya kepada mereka. 

"Lihat susu mu! Masih enakan punya dia" perkataan itu membuat Dina menoleh kepada anak-anak yang ribut tadi. Dina memperhatikan mereka.

"Masa iya? Cobalah susumu, mi. Aku mau tahu rasanya" ujar salah seorang wanita dari mereka. Wanita itu menyeruput susu temannya.

"Enakkan? Iyalah punya ku spesial tahu dibuatin oleh bartender ganteng hahaha"  ujar si wanita yang diketahui memiliki susu yang enak itu.

"Bukannya pesanan kita sama semua?" Tanya pria satunya lagi.

"Iya. Aku pesannya sama kok"

Dina memperhatikan susu wanita yang enak itu. Benar saja, susu itu tampak berbeda dengan punya teman-temannya, dari segi warna dan mungkin kekentalannya, Dina menebak.

Dina memperhatikan bahwa wanita yang memiliki susu yang enak itu tampak sombong karena susunya memiliki rasa yang lebih enak walaupun susu yang mereka punya sama semua.  

Dina meminum milk vanilla nya sampai habis. Dina menyimpan file tulisannya dan segera mematikan laptopnya dan menyimpan laptop tersebut kedalam tas laptop. Dina berjalan menuju kasir dan tidak menyangka ternyata kumpulan anak-anak yang ribut itu berada didepannya dan salah satu dari mereka sedang membayar.

Selagi kasir sedang menghitung harga, pria itu tampak bertanya kepada teman-temannya.

"Ini udah cukup kan? Kalau kurang gak ada lagi ni tambahannya" ucap pria yang paling tinggi itu.

"Cukup udah, kan kita mesannya sama" jawab wanita yang Dina ingat susu pesanannya sedikit lebih enak, itu yang Dina pikirkan saat melihat mereka tadi.

"Maaf mas, uangnya tidak cukup" ujar kasir wanita itu dengan senyuman.

"Loh? Kok bisa mbak? Kami pesannya sama semua loh" jawab pria yang membayar itu. Perkataan kasir itu membuat teman-temannya merapatkan diri.

"Ini mas, daftar menu yang mas pesan" kasir itu memberikan struk pembayaran. Saat mereka melihat dengan teliti, tampak disana satu menu yang berbeda namun memiliki dasar minuman yang sama. Tiga menu yaitu Milk Vanilla dan satunya lagi adalah Milkshake Vanilla with Chocolate Float Special. 

Pria itu tampak melongo memperlihatkan bill belanjaan mereka.

"Loh, itu punyamu kan, Hani? Soalnya dari segi rasa, susumu yang enak"

Oke. Nama wanita itu Hani. Ujar Dina dalam hati. Mereka terus berdebat siapa yang akan membayar. Kalau mengikuti aturan, seharusnya wanita bernama Hani lah yang membayar tapi dia tidak mempunyai uang lebih, begitu pula temannya yang lain. Mau protes pun, susu itu sudah habis terminum.

"Mbak, berapa kurangnya?" Dina tiba-tiba muncul ditengah-tengah mereka dan membuat anak-anak itu terkejut.

"20 ribu mbak" Dina mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang.

"Ditambah punya saya mbak, meja nomor 13. Jadi berapa?" Tanya Dina yang masih serius mencari uang yang cukup di dompetnya.

"Semuanya 38 ribu mbak" Dina pun memberikan uang pas, dan mengambil bill belanjanya meninggalkan kumpulan anak-anak itu yang masih terbengong melihat Dina yang melenggang pergi sambil menampilkan senyuman cerahnya. 

Dina membuka pintu café tersebut, menahannya agar tidak tertutup dan membalikkan badannya melihat kumpulan anak anak yang masih terbengong dengan muka menggelikan.

"Tidak selalu susu orang lebih menarik dibanding susu sendiri. Jadi, bersyukurlah. Walaupun susu orang lebih menarik" ujar Dina sambil mengedipkan sebelah matanya. Seketika mata Dina menatap tajam lurus kedepan.

"Kau penulis cerita, ubahlah judulnya geli pula aku bacanya"

Setelah itu barulah Dina benar-benar meninggalkan café tersebut.

Selasa, 17 Oktober 2017

What's Going On? | Chapter 1

"Is it over there?"

"Just five meters away, sir!"

"Hurry Up!"

Hustle and bustle, shouting, screaming has become commonplace in this campus.

-

Regan could only glance at what the tens of construction workers were doing. This incident had been eight months and Regan still didn't know what they were doing. Regan rode his bike through a new gap made by the workers. This gap can only be passed one way and very narrow, the more surprising is no one is protesting what they do.

Regan turned his motorcycle into his faculty, Faculty of Teacher Training Education. After setting up his bike he walk into the classroom and found some of his friends had arrived.

"Yo, Morning guys!" with his trademark style, Regan greeted his friend who looked seriously reading a book. Not strange because today there is a schedule of group presentations and a collection of people that will move forward.


"All!!!"

"What is wrong?"

"What is that?"

"Is not that the Faculty of Forestry?"

Regan merasa sedikit terusik dengan kehebohan diluar, dengan segera ia berjalan keluar kelas dan melihat beberapa mahasiswa tampak keheranan dengan apa yang terjadi. Fakultas Kehutanan berada di depan Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan. Regan melihat tampak disana beberapa orang membawa sebuah kandang besi besar yang mungkin sangat berat, yang membuat heboh adalah apa isi di dalamnya itu. Bunyi khas besi dibanting sangat memekakkan telinga.

"Cepat!"

Teriak salah satu seseorang yang diyakini  Regan adalah seorang dekan Fakultas Kehutanan. Tidak hanya mahasiswa bahkan rektor wanita bertubuh subur itu tampak mendekati tempat keramaian, dengan dijaga beberapa pria berbadan tegap wanita itu tampak membisikkan sesuatu kepada salah satu pria. Setelah membisikkan sesuatu, wanita itu pergi meninggalkan tempat dengan mobil sedan hitam dan pergi menjauh. 

Regan yang tidak mengerti keadaan ini, hanya menatap serius kandang besar itu yang banyak orang sedang berusaha mengambilnya. 

"Regan!"

Mendengar namanya dipanggil, Regan membalikkan badannya dan melihat teman dekatnya memanggilnya Regan pun mendekati teman-temannya tersebut.

-

"Mana anggota yang lain?" tanya seorang perempuan kepada teman-temannya itu. Regan menatap semua temannya. Sekarang mereka berada disalah satu pondok yang digunakan sebagai tempat kumpul mereka. Namun, ada yang berbeda, dulu pondok itu akan berhadapan dengan jalanan luar, sekarang sudah ditutupi tembok setinggi lebih kurang 15 meter dengan kawat yang sangat besar diatasnya. 

"Irham, Lian, dan Hadi belum datang" jawab salah satu perempuan yang bernama Raini. Tidak seperti biasanya, tampak muka mereka semua sedang serius dan Regan bingung akan hal itu.

"Mulai darimana kita bahas?" tanya Rianti, salah satu anggota yang sedikit lasak tersebut.

"Jadi, sebelumya aku ingin bertanya apa kalian tidak merasakan sesuatu yang aneh dengan kampus kita ini?" tanya salah saru anggota tertua disana, Qia. Qia memandang temannya satu-persatu tampak raut serius dari wajah mereka masing-masing.

"Yang aku tahu, pertama banyak dosen yang melakukan pemberhentian kerja, kedua pengerjaan tembok setinggi lebih kurang 15 meter yang anehnya tidak ada satupun mahasiswa, Presiden Mahasiswa ataupun masyarakat sekitar kepo tentang hal ini" jawab salah satu anggota pria bernama Tama. Mendengar jawaban itu, membuat Qia dan anggota tim ini menganggukkan kepalanya.

"Yang aku tahu juga, kos Lian juga mendadak yang punya kos pergi keluar kota dan kata Lian mereka harus membayar kos via rekening" jawab Raini, salah satu anggota wanita tertinggi disana.

Mereka adalah Qia, Tama, Regan, Raini, Rianti dan Risa. Mereka membuat kelompok yang sebenarnya terdiri dari sembilan orang. tim mereka ini dinamakan IAU atau lengkapnya It's About Us. Awalnya ini hanya seperti kelompok belajar, namun akhir-akhir ini menjadi tim pencari fakta. Qia adalah anggota wanita yang tertua di IAU, mengambil peran seorang ibu di tim. Raini adalah anggota wanita yang sedikit ceroboh dan sering tidak memikirkan apa yang terjadi kedepannya. Rianti adalah anggota wanita yang berani, sedikit blak-blakan dan susah dinasehati. Risa adalah anggota wanita yang santai dan terlihat sangat berhati-hati dalam setiap tindakannya. Lian adalah anggota wanita yang selalu mengikuti apa saja keputusan tim.

Anggota laki-laki ada Tama, Hadi, Regan, dan Irham. Tama merupakan anggota yang cekatan dan bisa berpikir kritis. Hadi adalah anggota yang tidak banyak bicara alias bicara seperlunya. Regan adalah anggota yang mampu berpikir kritis namun memiliki ide yang sedikit aneh. Dan terakhir ada Irham, anggota yang sedikit ceroboh, lambat dan selalu diremehkan anggota yang lain. wajar bila banyak anggota perempuan, ini dikarenakan Fakultas tempat mereka belajar adalah Fakultas yang identik dengan perempuan.

Fakultas Kehutanan 

Ruangan itu tampak gelap walaupun disiang hari dengan seluruh jendela ditutup rapat dan di selimuti gorden bewarna merah darah. Terlihat di sudut ruangan yang berisi lemari-lemari kaca ada beberapa orang yang tampak sedang berbicara serius dengan yang lain. Tampak hanya seperti bayangan hitam.

"Sudah ada tiga sekarang, apa yang harus kita lakukan?"

"Kita semua harus tutup mulut, sedikit saja mahasiswa yang mengetahuinya. Riwayat kita akan tamat"

"Bagaimana pengerjaan tembok?"

"Sudah 90% selesai. Diperkirakan akan rampung minggu depan"

"Lalu, apa rencana Ibu Rektor? Bukankah Ibu Rektor turut andil dalam kejadian ini?"

"Dia akan melakukannya, kalau tidak dia juga yang akan mati!"

Brak! Brak! Brak!

Orang yang sedang berdiskusi itu menatap pintu besi di depan mereka. Perasaan takut, was-was menghampiri diri mereka. Mereka tidak akan bisa pulang kerumah sekarang, tidaka akan.

-

Seminggu Kemudian...

Tembok tinggi itu telah selesai dibangun, menjulang tinggi dan diatasnya ada kumpulan kawat yang sangat tajam. Bahkan, yang bisa memasuki kampus ini hanya mahasiswa dan dosen. Pintu masuk dan keluar sangat dijaga ketat oleh petugas, pintu masuk dan keluar hanya dibuat satu sekarang, yang membuat tak jarang saat ingin keluarpun harus antre yang panjang.

Pria itu berjalan memasuki area Universitas, umpatan tak henti-hentinya ia lontarkan. Bukan tanpa alasan ia seperti itu, ini dikarenakan motornya ditilang saat dijalan tadi, dan betapa tidak beruntungnya dia yang harus menaiki bus dan membayar lebih. Saat ia berjalan, tiba-tiba di Fakultas Ekonomi tampak puluhan mahasiswa demo di depan Gedung untuk dosen. Pria itu melihat dengan teliti apa yang mereka tulis di spanduk.

LULUSKAN KAMI!!!

BERIKAN SARJANA KAMI!!!

dan masih banyak lagi. Pria yang tampak penasaran itu mencoba bertanya kepada salah satu mahasiswa disana.

"Bang, demo apa ni?"

"Ini, mereka udah ujian skripsi, udah membayar uang wisuda namun tiba-tiba enam dosen terkait masalah ini mengundurkan diri secara sepihak"

"Hah? Lalu pihak Universitas?"

"Mereka menyetujuinya"

Pria itu tampak bingung, ya akhir-akhir ini banyak sekali dosen yang mengundurkan diri dan anehnya pihak Universitas menyetujuinya. Tiga hari yang lalu ada sebuah demonstrasi yang dilakukan Presiden Mahasiswa dan jajarannya, namun esok harinya mereka tampak diam, dan seolah tidak terjadi apa-apa.

"Irham!"

Merasa namanya terpanggil, Irham mencari sumber suara dan melihat Hadi yang membawa motor. Irham bergegas mendekatinya dan langsung menaiki motor Hadi.

Ini aneh, ada yang tidak beres. Beberapa Fakultas yang mereka lewati, semua sedang melakukan demo, teriakan, orasi, sepeda motor dan mobil, sampah yang berserakan tampak menghiasi jalanan Universitas ini. Hadi dan Irham hanya mampu melihat, mereka tidak hanya melihat orasi, mereka melihat betapa anarkisnya mahasiswa seperti melempar batu ke jendela gedung, merusak fasilitas kampus, membakar ban dan masih banyak lagi. 

Berbeda dengan Fakultas lainnya, Fakultas Kehutanan, Ilmu Komunikasi, dan Keguruan tampak sepi. Memang, karena tiga Fakultas inilah yang berada di sudut Univesitas. Semakin dekat mereka, semakin terkejut Hadi dan Irham melihat apa yang terjadi. Motor-motor berserakan jatuh dijalan, mobil sudah tidak terpakir dengan semestinya, bercak merah menghiasi salah satu mobil dengan pintu terbuka. Irham semakin takut, begitu juga dengan Hadi. Mereka turun dari motor setelah memakirkan motor, semuanya tampak sepi, kursi yang berserakan di lapangan, motor berjatuhan, tas-tas mahasiswa tampak berserakan juga.

Irham berusaha menghubungi teman-temannya.

"Halo, Kak Qia! Apa yang terjadi?"

"C-cepat. Pergi dari sana. Kami di Perpustakaan. Cepat kesini, diluar sangat berbahaya!"

"Ham. Ham"

Hadi menepuk pundak Irham beberapa kali, saat Irham merespon. Mereka mengedarkan pandangan kesalah satu pohon besar. Bukan pohonnya, tapi apa yang di bawah pohon tersebut. Irham menajamkan matanya melihat sekumpulan orang tengah berdiri disana. Ada yang aneh, gerak badan mereka tampak kaku dan tangan mereka tidak lurus dengan wajar.

"K-kak Qia, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Irham yang masih berhubungan telfon.

"Irham dengarkan, kakak lihat kalian berdua. Kalian segera ke perpustakaan sekarang. Yang kalian lihat itu bukan manusia!"

Bruk!

Irham melihat Hadi melemparkan batu kearah mereka, dan betapa terkejutnya mereka melihat apa yang terjadi. Kumpulan itu bergerak cepat, berlari tampak kesusahan, tangan mereka yang tampak ingin mencekik. Semakin dekat, Irham melihat darah disekujur tubuh mereka dan mereka mengelurkan suara yang mengerikan.

Hwarrghh!! arrhgg!!!

"Lari!!" Irham berteriak dan menarik tangan Hadi. Mereka menuju perpustakaan, suatu tempat yang Qia suruh mereka kesana.

Ini seperti mimpi buruk, apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Fakultas lain sedang berdemo sedangkan disini sepi, dan mahkluk apa tadi?

Saat mereka berlari menuju perpustakaan, itulah yang dipikirkan Irham. Dia tidak pintar untuk hal seperti ini.

Keadaan semakin mencekam, haripun sudah semakin sore, tas tas, motor, mobil, kursi, meja berserakan dijalan dan area Fakultas, bercak darah dimana-mana. Teriakan minta tolong terdengar dipenjuru Fakultas. Hingga sebuah lembaran kertas jatuh bertuliskan.

Universitas Lancang Kuning Bertanggung Jawab Atas Kejadian Wabah Penyakit


Irham dan Hadi berlari menuju Perpustakaan. Dibelakang mereka sudah ada sekitar lima makhluk mengejar mereka. Irham tidak berani melihat wajah mereka, tidak. Itu sangat mengerikan. Pintu Perpustakaan terbuka dan terlihat Qia dengan raut wajah cemas menyuruh mereka cepat. Irham dan Hadi yang sudah masuk, lalu membantu Qia menutup pintu, makhluk itu berusaha melawan. Irham menatap ngeri tampilan mereka. Badan yang hitam membusuk, ceceran darah yang tidak bewarna merah lagi.

Hwargggg!!!! Hwarrgg!!!! Arghhgggg!!!

Anggota yang ada di dalam pun turut membantu menutup pintu. Rianti mengambil skripsi-skripsi tebal dan melemparkannya kepada mahkluk mengerikan itu. Setelah sedikit berkurang, mereka mendorong pintu itu bersama, dan mengunci serta meletakkan rak besar agar makhluk itu tidak bisa membuka.

Mereka semua tampak kelelahan, Irham melihat keadaan perpustakaan sedikit berantakan.

"Untunglah kalian kemari" ujar Tama memberikan segelas air yang di dapat dari kulkas untuk diberikan kepada Irham dan Hadi.

"Hahhh... Sebenarnya mahkluk apa tadi?" Tanya Irham sesekali mengintip di jendela, terlihat beberapa makhluk itu tampak berlindung dibawah matahari.

"Itu hasil mutasi mahasiswa Kehutanan" jawab Rianti enteng sambil memakan kerupuk. Irham menolehkan pandangannya. Keadaan sangat berantakan, namun ada yang aneh. Mereka hanya berdelapan.

"Dimana Kak Raini?" Tanya Irham kepada mereka.

"Dia terjebak di wc, dan sekarang dia masih di wc. Kita harus secepatnya kesana" ujar Rianti semangat.

"Hah? Diri kita aja, tak tahu akan selamat atau tidak. Ini malah nyelamatin orang? Aku tidak mau ikut-ikutan" sanggah Risa disudut ruangan.

"Gila. Dia itu teman kita. Oke terserah kau mau ikut atau tidak. Ada atau tidaknya kau pun gak ngaruh" bentak Rianti.

Sebenarnya, Irham sudah cukup tenang saat dirinya selamat dari kejaran makhluk itu. Namun, saat mendengar Rianti terjebak di wc membuatnya khawatir, bukan dirinya saja tapi anggota yang lainpun juga kecuali Risa, pikir Irham.

Perpustakaan dikelilingi makhluk mengerikan tersebut. Mereka harus mencari perlindungan, seketika terkait pembangunan tembok, dosen yang mengundurkan diri secara massal, aksi demo entah mengapa semua hal itu terkait dengan masalah yang terjadi sekarang. Mereka harus menemukan orang yang selamat di kampus ini, dan bersama-sama mencari jalan keluar.


Kamis, 05 Oktober 2017

Prinsip-Prinsip Belajar (Rangkuman Hasil Diskusi)

Prinsip Belajar

Menurut Gestalt adalah suatu transfer belajar antara pendidik dan pe ena didik sehingga mengalami perkembangan dari proses interaksi belajar mengajar yung dilakukan secara terus menerus dan diharapkan peserta didik akan mamp men permasalahan dengan sendiri melalui teori-teori dan pengalaman yang diterimanya.

Prinsip-Prinsip Belajar yang Terkait Dengan Proses Belajar

Berikut ini prinsip-prinsip belajar yang dikemukakan oleh Rothwal A.B (1961) adalah:

  • Prinsip Kesiapan (Readinees)
  • Prinsip Motivasi (Motivation)
  • Prinsip Presepsi
  • Prinsip Tujuan
  • Prinsip Perbedaan Individual
  • Prinsip Tranfer dan Retensi
  • Prinsip Belajar Kognitif
  • Prinsip Belajar Afektif
  • Prinsip Belajar Evaluasi
  • Prinsip Belajar Psikomotor


Keaktifan Belajar

Mon Dewey mengemukakan, bahwa belajar adalah menyangkut apa yang harus dikerjakan siswa untuk dirinya sendiri., yaitu aktivitas mental dan emosional. 

Dalam hal belajar, guru dan siswa harus memiliki ikatan yang kuat agar cita-cita/tujuan sesama akan mudah dicapai. Guru tidak boleh  membiarkan ada siswa yang tidak ikut aktif belajar. Lebih jauh dari sekedar mengaktifkan siswa belajar, guru harus meningkatkan kadar aktifitas belajar tersebut. Siswa yang sudah menerima pelajaran dari guru hendaklah lebih didalami lagi yaitu dengan cara mengulangi pelajaran yang dijelaskan guru di rumah. Ini bermanfaat agar siswa tetap mengingat dan tahu bahwa ia sudah belajar tentang hal tersebut dikemudian hari yang mana di masa depan ilmu itu akan dipelajari lebih dalam lagi nantinya


QandA section

Dalam sesi tanya jawab, salah satu pertanyaan yang menarik adalah salah satu mahasiswa bernama Yeniati. Pertanyaannya sebagai berikut;

"Bagaimana tanggapan penyaji jika ada pendidik yang mendasarkan motivasi namun mengajarnya keras dan cenderung mendikte pelajar?"

Dalam hal ini bisa dijawab yaitu, setiap pelajar memiliki karakteristik, tipikal, sifat dan latar belakang yang berbeda-beda. Membentak dalam hal positif sebenarnya tidak sepenuhnya salah, namun Guru harus pandai dan cerdas melihat sikap siswanya tersebut. Ada siswa yang dibentak dulu baru mengerti, ada siswa yang dibentak malah menambah beban bagi siswa tersebut. Disinilah peran guru sebagai pendidik sangat dibutuhkan, guru harus pandai dalam mendidik sekian banyak siswa yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Mirisnya, di zaman sekarang banyak guru beralasan bahwa membentak adalah bagian dari motivasi diri siswa tersebut, namun harus diingat kembali bahwa tidak semua siswa beranggapan mereka dibentak adalah bentuk motivasi. Tentu bukan salah guru ataupun siswanya, namun guru dan siswa hendaklah tahu apa yang hak adan kewajibannya dan apa-apa yang harus dilakukannya.