Wanita itu tampak terburu-buru. Sweater merah mudanya dengan rok ngembangin selutut tampak selaras dengan tubuhnya yang tinggi dengan kulit yang putih, rambut panjangnya tampak berterbangan acak dikarenakan larinya yang sangat cepat. Wanita ini sungguh hebat karena dia menggunakan sepatu berhak yang lumayan tinggi.
Wanita itu berhenti di depan halte, merapikan sedikit dandanannya, merapikan rambutnya dan juga mengelap keringatnya dengan tisu yang ia simpan di saku sweater merah mudanya. Dengan wajahnya yang cantik membuat beberapa pria yang berada disekitar sana menatap kagum ciptaan Yang Maha Kuasa tersebut.
Hari ini masih pagi, dan tibalah sebuah bus di depan halte wanita itu menunggu. Beberapa mereka masuk kedalam bus tidak terkecuali wanita itu juga masuk. Keadaan didalam bus sangat ramai hingga membuat wanita itu harus berdiri. Terkadang wanita itu mengumpat saat melihat pria yang dengan asyiknya duduk di bangku sedangkan ia harus berdiri bersama beberapa pria lain walaupun tidak terlalu berdempetan.
Beberapa penumpang telah turun dari bus, tapi itu tetap tidak bisa membuat wanita itu duduk dan dia tetap harus berdiri. Hingga suatu kejadian tidak pernah terpikirkan olehnya. Ia merasakan ada sesuatu di kakinya dan terus turun perlahan, wajahnya pucat. Pelecehan? Tidak. Bahkan tidak ada pria dibelakangnya, hanya seorang ibu-ibu dengan belanjaan pasarnya yang tengah tertidur dan pria tampan yang asyik dengan earphone nya.
Tess
Suara itu hanya disadari oleh wanita itu. Dia sadar, ternyata dirinya sedang haid dan ia lupa memakai pembalut. Dengan wajahnya yang pucat, ia melihat keadaan didalam bus. Memang tidak ramai, namun saat akan turun nanti, ia harus melewati beberapa penumpang dan penumpang itu pasti melihat kakinya. Ia merapatkan kakinya dan berusaha menghilangkan jejak haidnya yang terlanjur jatuh ke lantai bus dengan menggesekkan sepatunya.
Byurrr!!
"Yyaaaa!!!"
Belum selesai masalah haidnya, ia dihadapkan oleh seorang pria yang dengan tidak sopannya menumpahkan sekotak susu cokelat ke kakinya.
"Ya Tuhan! Maaf mbak! Saya tidak sengaja, saya minta maaf. Ini, bersihkan pakai ini" Wanita itu tahu, pria ini tampak sedang berakting panik namun dirinya santai. Pria berwajah tegas itu mengeluarkan jaket hitamnya dan melingkarkan jaket itu ke pinggangnya. Wanita itu mengelap bercak di kakinya. Bus berhenti dan itu adalah tujuan wanita itu. Wanita itu turun dengan masih memakai jaket, dan benar saja beberapa penumpang terlihat tidak melihat kearahnya.
Wanita itu turun dari bus dan secara tiba-tiba pria yang tadi memberikan jaketnya menyusul jalannya seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
"H-hey kau! Berikan aku alamat rumahmu!" Ujar wanita itu to the point. Pria itu membalikkan dirinya menatap aneh wanita yang tampak ragu akan ucapannya tadi.
"J-jangan salah paham. Aku hanya ingin mengembalikan jaket ini" ucap wanita itu berusaha percaya diri.
Pria itu tampak tampan dengan rambut ala Koreanya, sorot matanya yang tajam, badannya yang tinggi dan tampak otot yang menggembung di lengannya. Pria itu mengeluarkan secarik kertas dan menulis. Pria itu lalu memberikan kertas itu kepada wanita itu.
"Baiklah, besok akan ku kembalikan" ujar wanita itu.
"Tidak usah. Kau harus ganti rugi" jawab pria itu enteng.
"Hah? Oh! Aku tahu kau pasti jijik kan? Oke jaket kau ini akan ku cuci sepuluh kali di loundry. Oke?" Tantang wanita itu yang seperti tak terima dengan perkataan pria itu.
"Dasar bodoh! Kau harus ganti susu cokelat ku. Itu hadiah untuk adikku dirumah. Kau harus memberikannya padaku nanti malam"
"Hahaha, baiklah. Aku kira apa, ternyata pria seperti mu sangat menyaya~"
"Sudah jam 7. Aku akan terlambat. Sampai jumpa. Dan ingat hutangmu" potong pria itu dan berlalu meninggalkan wanita itu yang tampak geram karena perkataannya dipotong.
"Dasar. Sialan! Tunggu, jam? Jam berapa?" Wanita itu tampak kalap saat melihat jam tangannya sudah menunjukkan jam 7 lewat 10 menit. Dia terlambat masuk kuliah.
-
It was getting late, and the woman looked bored up and down in front of a row of uniformed houses. The woman cursed why she did not ask for his number, let her not like now. Look, her face oily, hair tied it is not tidy again, and do not forget his heels have been replaced with flip-flops that still survive only the clothes alone.
Terlihat seorang wanita tengah keluar rumah. Tampak wanita itu membuang sampah. Kesempatan itu tidak disia-siakan nya untuk bertanya.
"Permisi mbak, boleh bertanya?" Tanyanya.
Wanita itu membalikkan badan, dan tampak wajah manisnya dan senyum lembut menghiasi dirinya, dan sepertinya ia jauh lebih muda dibanding dirinya.
"Iya,mbak?"
"Mbak. Disini ada gak pria tingginya sekitar segini dan yah dia katanya mau memberikan susu cokelat untuk adiknya" ucapnya sambil mengira-ngira tinggi pria itu. Wanita yang ditanyai itu tampak bingung dengan perkataan wanita yang ada dihadapannya ini.
"Sayang! Kenapa lama seka-"
Suara itu terpotong tatkala pemilik suara melihat dua wanita tengah menatapnya.
"Kamu!"
"T-tunggu. Jadi kamu udah nikah?" Tanya wanita itu spontan.
The man and the woman laughed at the amazement of their guests, laughing they did not stop because their guest was still silent with her index finger pointing at the man and his rounded mouth.
-
"Namaku Hiandra Angutin. Yang membuang sampah tadi itu adik ku, namanya Haini Agustina"
Pria itu memberikan secangkir teh kepada tamunya.
"Oh iya. Siapa namamu?"
"Li-li Lian Anne" jawab wanita itu terbata-bata.
Marga Neil jal naga. Jeil jeil jeil jal naga
Bamratatata Tatatata
"Bukankah itu lagu 2NE1?" tanya spontan Lian saat mendengar lagu kesukaannya diputar.
"Ya begitulah"
"Apa adikmu penggemar K-Pop?"
"Y-yak! Mana dulu hutang susumu?"
Lian tampak merenggut imut memberikan sekotak kecil susu cokelat kepada Hiandra.
"Aini, ini susu cokelatmu!"
Haini keluar dari kamar, dan memandang cerah kotak yang berisi susu kotak kecil rasa cokelat.
"Wajah terima kasih, kak! Yuhuuuu"
"Haini, ajak juga dia ke kamarmu. Sepertinya dia juga suka Korea"
"Benarkah kak?" Tanya Haini meminta kejelasan kepada Lian
"Iya, aku suka BIGBANG"
"Eaaaaa!!!!!"
"Kalau begini, aku rela kalian jadian!"
Ucapan terkahir Haini membuat Lian dan Hiandra mendadak canggung. Haini telah masuk kamarnya dengan bahagianya memegang kotak susu kesukaannya itu.
Lian menyusul Haini kedalam kamarnya, saat melewati Hiandra. Hiandra menatap Lian.
"Kau tidak lupa kan memakai pembalut? Disini tidak ada pembalut" perkataan itu seperti ejekan bagi Lian. Lian pun siap-siap memukul Hiandra namun, pria itu telah lari keluar rumah.
"Sialan!"
-
It was getting late, and the woman looked bored up and down in front of a row of uniformed houses. The woman cursed why she did not ask for his number, let her not like now. Look, her face oily, hair tied it is not tidy again, and do not forget his heels have been replaced with flip-flops that still survive only the clothes alone.
Terlihat seorang wanita tengah keluar rumah. Tampak wanita itu membuang sampah. Kesempatan itu tidak disia-siakan nya untuk bertanya.
"Permisi mbak, boleh bertanya?" Tanyanya.
Wanita itu membalikkan badan, dan tampak wajah manisnya dan senyum lembut menghiasi dirinya, dan sepertinya ia jauh lebih muda dibanding dirinya.
"Iya,mbak?"
"Mbak. Disini ada gak pria tingginya sekitar segini dan yah dia katanya mau memberikan susu cokelat untuk adiknya" ucapnya sambil mengira-ngira tinggi pria itu. Wanita yang ditanyai itu tampak bingung dengan perkataan wanita yang ada dihadapannya ini.
"Sayang! Kenapa lama seka-"
Suara itu terpotong tatkala pemilik suara melihat dua wanita tengah menatapnya.
"Kamu!"
"T-tunggu. Jadi kamu udah nikah?" Tanya wanita itu spontan.
The man and the woman laughed at the amazement of their guests, laughing they did not stop because their guest was still silent with her index finger pointing at the man and his rounded mouth.
-
"Namaku Hiandra Angutin. Yang membuang sampah tadi itu adik ku, namanya Haini Agustina"
Pria itu memberikan secangkir teh kepada tamunya.
"Oh iya. Siapa namamu?"
"Li-li Lian Anne" jawab wanita itu terbata-bata.
Marga Neil jal naga. Jeil jeil jeil jal naga
Bamratatata Tatatata
"Bukankah itu lagu 2NE1?" tanya spontan Lian saat mendengar lagu kesukaannya diputar.
"Ya begitulah"
"Apa adikmu penggemar K-Pop?"
"Y-yak! Mana dulu hutang susumu?"
Lian tampak merenggut imut memberikan sekotak kecil susu cokelat kepada Hiandra.
"Aini, ini susu cokelatmu!"
Haini keluar dari kamar, dan memandang cerah kotak yang berisi susu kotak kecil rasa cokelat.
"Wajah terima kasih, kak! Yuhuuuu"
"Haini, ajak juga dia ke kamarmu. Sepertinya dia juga suka Korea"
"Benarkah kak?" Tanya Haini meminta kejelasan kepada Lian
"Iya, aku suka BIGBANG"
"Eaaaaa!!!!!"
"Kalau begini, aku rela kalian jadian!"
Ucapan terkahir Haini membuat Lian dan Hiandra mendadak canggung. Haini telah masuk kamarnya dengan bahagianya memegang kotak susu kesukaannya itu.
Lian menyusul Haini kedalam kamarnya, saat melewati Hiandra. Hiandra menatap Lian.
"Kau tidak lupa kan memakai pembalut? Disini tidak ada pembalut" perkataan itu seperti ejekan bagi Lian. Lian pun siap-siap memukul Hiandra namun, pria itu telah lari keluar rumah.
"Sialan!"

0 komentar:
Posting Komentar