The girl continues to walk his mother's call. The girl named Dina was walking carrying her laptop bag. Several times his lips moved a small hum singing a song that was somehow. Dina slowed her pace as she was blamed for a café. The café called DayandNight looks elegant with its outbuildings dominated by black paint with fluorescent lights that look gorgeous at night. Some young people seemed to sit and chat with each other, there was also a café waiter serving some customers.
Dina walks into the café, opens the glass door and is greeted with a cool cold and refreshing ac. Dina smoothed her hijab slightly and looked for a place she thought was very comfortable. Dina saw a corner place directly opposite the outside of the café, Dina rushed towards it. Dina puts her laptop down and sits at a small round table that is actually reserved for two people. The first 30 seconds came a male waitress in her black uniform, clean face and hair that looked pomade.
Dina walks into the café, opens the glass door and is greeted with a cool cold and refreshing ac. Dina smoothed her hijab slightly and looked for a place she thought was very comfortable. Dina saw a corner place directly opposite the outside of the café, Dina rushed towards it. Dina puts her laptop down and sits at a small round table that is actually reserved for two people. The first 30 seconds came a male waitress in her black uniform, clean face and hair that looked pomade.
"Silahkan mbak, ini daftar menunya" pelayan pria yang diketahui bernama Gino dari name tag Itu memberikan buku menu berlambangkan café didampul depannya.
Dina tampak serius melihat dan memperhatikan menu-menu yang ada. Seperti umumnya café, café ini lebih banyak menyediakan milkshake, ice blend, coffee dan beberapa menu makanan. Selain melihat menu, Dina juga melihat harga yang tertera.
"Milk Vanilla nya satu ya mas" seru Dina sambil menutup buku menu itu dan menyerahkannya kepada pelayan yang tengah menulis di buku kecil.
"Ada yang lain, mbak?"
"Gak usah. Itu aja dulu mas"
"Ditunggu ya mbak"
Pelayan itu pergi meninggalkan Dina. Dina membuka laptop hitamnya, melihat tampilan wajahnya. Wajah lonjong dengan pipi yang tembem tampak begitu menawan dengan jilbab merahnya menambah sedikit kecantikannya. Dina menghidupkan laptopnya, dan mencari aplikasi Microsoft Word. Dina mengetik beberapa kalimat dengan cekatan dan beberapa kali tersenyum membayangkan tulisannya.
"Ini mbak. Milk Vanilla. Selamat menikmati" Pelayan yang tadi meletakkan satu gelas besar ke meja Dina. Dina sedikit menggeser kan laptopnya agar lebih leluasa.
Dina menyeruput minumannya dengan gemas.
"Eummm" Dina tampak menikmati minumannya, dan segera melanjutkan ketikannya.
Beberapa menit kemudian, Dina tampak terusik dengan beberapa orang di depannya. Tampak disana dua orang perempuan dan dua orang laki-laki tengah bercanda dengan keras dan sesekali wanita disana memukul gemas pria yang sepertinya membuat candaan.
"Isss apalah kau ni! Janganlah hahaaha"
"Iya iya, kau tu orangnya hahaha"
"Hahaha"
Candaan mereka semakin menjadi yang membuat Dina seperti ingin melemparkan milk vanilla nya kepada mereka.
"Lihat susu mu! Masih enakan punya dia" perkataan itu membuat Dina menoleh kepada anak-anak yang ribut tadi. Dina memperhatikan mereka.
"Masa iya? Cobalah susumu, mi. Aku mau tahu rasanya" ujar salah seorang wanita dari mereka. Wanita itu menyeruput susu temannya.
"Enakkan? Iyalah punya ku spesial tahu dibuatin oleh bartender ganteng hahaha" ujar si wanita yang diketahui memiliki susu yang enak itu.
"Bukannya pesanan kita sama semua?" Tanya pria satunya lagi.
"Iya. Aku pesannya sama kok"
Dina memperhatikan susu wanita yang enak itu. Benar saja, susu itu tampak berbeda dengan punya teman-temannya, dari segi warna dan mungkin kekentalannya, Dina menebak.
Dina memperhatikan bahwa wanita yang memiliki susu yang enak itu tampak sombong karena susunya memiliki rasa yang lebih enak walaupun susu yang mereka punya sama semua.
Dina meminum milk vanilla nya sampai habis. Dina menyimpan file tulisannya dan segera mematikan laptopnya dan menyimpan laptop tersebut kedalam tas laptop. Dina berjalan menuju kasir dan tidak menyangka ternyata kumpulan anak-anak yang ribut itu berada didepannya dan salah satu dari mereka sedang membayar.
Selagi kasir sedang menghitung harga, pria itu tampak bertanya kepada teman-temannya.
"Ini udah cukup kan? Kalau kurang gak ada lagi ni tambahannya" ucap pria yang paling tinggi itu.
"Cukup udah, kan kita mesannya sama" jawab wanita yang Dina ingat susu pesanannya sedikit lebih enak, itu yang Dina pikirkan saat melihat mereka tadi.
Selagi kasir sedang menghitung harga, pria itu tampak bertanya kepada teman-temannya.
"Ini udah cukup kan? Kalau kurang gak ada lagi ni tambahannya" ucap pria yang paling tinggi itu.
"Cukup udah, kan kita mesannya sama" jawab wanita yang Dina ingat susu pesanannya sedikit lebih enak, itu yang Dina pikirkan saat melihat mereka tadi.
"Maaf mas, uangnya tidak cukup" ujar kasir wanita itu dengan senyuman.
"Loh? Kok bisa mbak? Kami pesannya sama semua loh" jawab pria yang membayar itu. Perkataan kasir itu membuat teman-temannya merapatkan diri.
"Ini mas, daftar menu yang mas pesan" kasir itu memberikan struk pembayaran. Saat mereka melihat dengan teliti, tampak disana satu menu yang berbeda namun memiliki dasar minuman yang sama. Tiga menu yaitu Milk Vanilla dan satunya lagi adalah Milkshake Vanilla with Chocolate Float Special.
Pria itu tampak melongo memperlihatkan bill belanjaan mereka.
"Loh, itu punyamu kan, Hani? Soalnya dari segi rasa, susumu yang enak"
Oke. Nama wanita itu Hani. Ujar Dina dalam hati. Mereka terus berdebat siapa yang akan membayar. Kalau mengikuti aturan, seharusnya wanita bernama Hani lah yang membayar tapi dia tidak mempunyai uang lebih, begitu pula temannya yang lain. Mau protes pun, susu itu sudah habis terminum.
Pria itu tampak melongo memperlihatkan bill belanjaan mereka.
"Loh, itu punyamu kan, Hani? Soalnya dari segi rasa, susumu yang enak"
Oke. Nama wanita itu Hani. Ujar Dina dalam hati. Mereka terus berdebat siapa yang akan membayar. Kalau mengikuti aturan, seharusnya wanita bernama Hani lah yang membayar tapi dia tidak mempunyai uang lebih, begitu pula temannya yang lain. Mau protes pun, susu itu sudah habis terminum.
"Mbak, berapa kurangnya?" Dina tiba-tiba muncul ditengah-tengah mereka dan membuat anak-anak itu terkejut.
"20 ribu mbak" Dina mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang.
"Ditambah punya saya mbak, meja nomor 13. Jadi berapa?" Tanya Dina yang masih serius mencari uang yang cukup di dompetnya.
"Semuanya 38 ribu mbak" Dina pun memberikan uang pas, dan mengambil bill belanjanya meninggalkan kumpulan anak-anak itu yang masih terbengong melihat Dina yang melenggang pergi sambil menampilkan senyuman cerahnya.
Dina membuka pintu café tersebut, menahannya agar tidak tertutup dan membalikkan badannya melihat kumpulan anak anak yang masih terbengong dengan muka menggelikan.
"Tidak selalu susu orang lebih menarik dibanding susu sendiri. Jadi, bersyukurlah. Walaupun susu orang lebih menarik" ujar Dina sambil mengedipkan sebelah matanya. Seketika mata Dina menatap tajam lurus kedepan.
"Kau penulis cerita, ubahlah judulnya geli pula aku bacanya"
Setelah itu barulah Dina benar-benar meninggalkan café tersebut.
"Kau penulis cerita, ubahlah judulnya geli pula aku bacanya"
Setelah itu barulah Dina benar-benar meninggalkan café tersebut.

0 komentar:
Posting Komentar